Cersex Cerita Sex ngentot mesu PERTAMA KALI BERHUBUNGAN DENGAN GADIS CANTIK SEORANG TUNA SUSILA

aku tinggal di satu buah kota minim dekat Jakarta. durasi itu aku anyar kuliah tingkat I. Hari itu aku kesel berat serupa dosen, yang tidak cuma killer pula asli egois. aku yang setiap hari kondang selaku mahasiswa yang disenangi oleh para dosen-meskipun enggak terunggul, dibuat malu nyaris semua kampus.

beliau bilang kalau aku ialah orang yang enggak dapat diyakini, karna dikasih kewajiban enggak melapor. sedangkan aku telah menanti mengharap di depan kantornya lebih dari 2 jam buat memberi informasi, beliau justru tidur di bilik dosen! aku kecewa berat, kemudian berbalik ke mes.


Sepanjang siang aku enggak dapat rehat memenungkan sang dosen killer. Sorenya aku pergi ke kota B buat mencari intermezo. aku enggak tahu intermezo apa, yang pokok aku terletak jauh dari mes. buat hingga ke kota B orang mesti naik ojek, karna angkutan biasa amat sedikit.

Jadi aku dapat yakinkan teman-teman enggak bakal terdapat yang mergoki bila aku lagi senewen demikian ini. aku kemudian nonton film. suatu yang sedikit aku lakukan. aku enggak ingat judulnya apa, tetapi yang aku ingat film itu kira-kira hot, melimpah segmen ranjangnya.

dengan nonton film aku pula beranikan diri minum bir. Ini pertama kali dalam hidup aku, karna aku tinggal dalam kawasan yang kencang. boleh jadi karna aku sungguh-sungguh nonton film, ataupun boleh jadi pula akibat bir, beroncet-roncet bersilir-silir bobot dampak sang killer luput pula. Yang tinggal ialah perasaan birahi karna akibat film.

Abis nonton, aku berdiam di depan film. Jam di tangan aku membuktikan pukul 21. 00. lagi petang, aku pikir. Lagipula aku berat kaki berbalik ke kampus, lagi kesal atas suasananya. tetapi ingin kemana? akibatnya aku melambaikan tahap pula ke arah stasiun sepur api, dekat jalur lokasi para ojek menanti mengharap.

hingga di stasiun suasananya antap. aku bersandar di kursi jauh lokasi para penumpang menanti mengharap sepur api. aku memasang rokok. Menghisapnya dalam- dalam. �Sendirian saja abang? � sontak terdapat suara menegur. aku kaget dari angan-angan serta berpaling ke kiri. seseorang perempuan cantik, sekeliling 10 tahun lebih berumur dari aku, berpakaian enak berdiri memandang aku atas senyum menggoda. Di tangan kirinya menggenggam satu batang rokok. astaga, ini tentu WTS pikirku.

aku benar kerap tangkap (suara) kalau di dekat stasiun ini melimpah WTS berkeliaran. lokasi bedah mereka kebanyakan di deresi sepur benda yang lagi berkelintaran. �Oh.. eh.. betul.. � jawab aku gugup dengan melawat ke arah deresi sepur yang di parkir di sisi stasiun. kira-kira gelap serta melimpah bayang-bayang berkelebat di situ. Sesekali dapat didengar suara wanita cekikikan. �Boleh aku temani.. ? � tanyanya. �Silakan� silakan.. � tutur aku dengan menggeser lokasi bersandar.

aku jadi dag-dig-dug. walaupun aku terbatas enggak aneh serupa teman- kawan wanita, tetapi buat seorang yang lebih agresif kayak gini aku jadi panas dingin rasanya. �Pulangnya kemana? � tanyanya dengan menaruh pantatnya yang cepat serta cuma ditutup oleh gaun hitam pendek.

Pahanya langsung kelihatan kala beliau menyengkelangkan kakinya. bagus serta bersih. harum air atar ekonomis menusuk hidung aku. �Ee.. ke kampus. � jawab aku polos. aku amati bibirnya yang berlipstik kasar mesem bandel mengeluarkan asap rokok ke arah aku. abnormal, berani benar ini wanita.

Matanya mengacuhkan aku dari berdasarkan ke bawah. Rambutnya jauh sebahu serta ujungnya melingkupi ketiaknya yang enggak tertutup blus. beliau mengenakan blus hitam tidak berlengan atas bagian amat kecil. kelihatan bagian putih dadanya yang jerojol dibalik bajunya. �Ooo.. mahasiswa yaa? � tanyanya acuh tak acuh. �Payah.. � �Kenapa? � aku kembali bersoal. �Duitnya tipis� jawabnya dengan ketawa. �Tapi �kan otaknya encer� akal bulus aku enggak ingin bertekuk lutut. �Percuma.

Lagian enggak kuat lama� tuturnya dengan membuang tumper rokok ke arah jalan kereta api sepur api. �Apanya? � �Goyangnya� jawabnya dengan memencet hidung aku. abnormal. Pikiran aku nyatanya betul. beliau termasuk salah satu �penghuni� deresi nganggur itu. �Emangnya mengapa? � aku jadi terpikat buat menggoda.

�Ya enggak lezat donk. Udah dibayar ekonomis, enggak senang lagi� aku nyaris kehilangan balasan. lalu bayan aku enggak pengetahuan dalam pertanyaan beginian. aku beranikan diri menghapus tangan kirinya yang putih bagus. beliau acuh tak acuh aja. barang dibalik celana aku kas beranjak naik. �Kan dapat belajar�. kendati dapat lebih lama� tutur aku. bertemu pula. �Enak aja.. emangnya kuliah� tuturnya. Bibirnya mencibir aleman.

kemudian beliau menepis tangan kanan aku yang asik mengelus tangan kirinya. �Kan dapat jadi langganan� tutur aku dengan alih mengelus bahunya. �Biasanya berapa satu rit? � burung aku kian bengkak. �Tergantung. bila biasa-biasa saja sih hanya 200 ribu�

beliau menepis tangan aku dari bahunya. �Mahal amat� Eh, yang biasa-biasa itu gimana? � �Yaa.. sedemikian itu lah. membungkang, tancep, ayun, selesai� tuturnya cekikikan. Rupanya beliau bertemu orang yang anyar tahu pertanyaan begituan. �Kalau yang enggak lazim? � tanyaku mau tahu.

�Emangnya danau belom tahu betul? lelah amat sih. lezat loh, �. diginiin nih� tuturnya dengan memuatkan jemari telunjuk kanannya ke dalam mulutnya seorang diri, kemudian dimaju mundurkan. �Hah, diisep? Astaga.. � aku kaget. �Apa danau enggak jelanak? � �Waktu pertama sih benci pula.

Abis bayarnya mahal, lama-kelamaan senang pula. lezat justru. bila yang lagi belia sih, kebanyakan aku telen. Obat amet belia.. hi.. hi.. � aku bergidik. �Kayak aku? � �Kalau danau ingin. tetapi bayarnya 2 kali lipat� �Nggak ah. bila bebas sih ingin. Kan promosi� �Huh! Maunya! � tuturnya. Iapun berdiri serta meninggalkan aku.

�Mau kemana? � pertanyaan aku dengan mencoba membekuk lengannya. �Cari langganan. danau ingin enggak? � �Ogah. bila bebas sih mau� �Gini aja lah, � tuturnya menekur �Situ beri uang lazim, tetapi aku kasih yang eksklusif. Itung-itung advertensi.. gimana? � saat ini ganti tangannya menarik-narik tanganku.

atas sebelah berat kaki aku bangkit dari bersandar membuntuti tarikannya. �Ee.. ee.. ntar.. � �Ntar apanya? � tanyanya dengan konsisten menarik tangan aku. akibatnya aku bepergian pula membuntuti langkahnya. arwah aku berkecamuk. aku belum sedia buat ini. tetapi antusiasme dalam diri aku telah naik dari nonton mulanya.

barang minim dalam celana aku juga telah bengkak. aku membuntuti langkahnya melampaui gerbong-gerbong sepur benda. Dalam remang-reman aku memandang dalam gerbong-gerbong itu diterangi parafin. melimpah wanita atas busana yang mendekati atas wanita ini lagi duduk-duduk.

terdapat yang telah ditemani pria. Sesekali dapat didengar gelak mereka. �Hei Marni, hebat lu. Waya gini udah dapet! � seseorang dari mereka meneriaki wanita yang bersama-sama aku. Rupanya wanita ini namanya Marni. beliau acuh tak acuh aja serta lalu menarik tanganku bepergian ke pucuk deresi. �Kita ingin kemana? � pertanyaan aku. Suara aku bergerak.

Gugup. �Tenang saja. anda seleksi lokasi yang setidaknya aman. � datang di deresi terakhir beliau berakhir. beliau naik ke pintu deresi yang benar enggak berpintu. karna tinggi beliau berkacak ke bahu aku. aku menguji menolong atas mendorong pantatnya. benyek sekali. datang di dalam beliau menggeser karton bekas buat mengisolasi pintu kiri serta kanan deresi.

Dalam deresi cuma terdapat satu batang parafin, tetapi cahayanya cukup buat mengobori semua ruangan deresi. Di ceruk dek deresi terbabar satu karpet kasah lusuh. tampaknya telah kerap digunakan buat bedah. Tanpa aneh Marni mulai melepaskan busananya satu persatu. Pertama bajunya. kemudian roknya.

lalu behanya yang berona hitam. sedemikian itu behanya terkupas, payudaranya langsung jerojol serta berayun bagus membuntuti aksi badannya. Putih, bagus serta cepat. Putingnya kelihatan alit serta bagus.

Tanpa menghiraukan aku yang lagi melamun beliau juga membuka celana dalamnya yang pula berona hitam, serta dilemparkannya ke gundukan busananya. aku heran. terkejut. enggak beranggapan sedemikian lekas prosesnya. Di ambang aku saat ini terdapat sesosok badan perempuan cantik serta putih bugil bundar, tanpa sehelai benangpun menutupinya.

sedemikian itu indahnya. amatan aku langsung ke selangkangannya yang berupa segitiga atas rambutnya yang rimbun. aku memakan air liur acap kali. Ngiler. �Koq melamun? ingin dibukain? � tanyanya memadamkan keterpesonaanku. �Eh sorry.. � tutur aku dengan melepasi busana aku satu masing-masing satu.

Saking bersicepat aku nyaris terguling. beliau cekikikan. aku buka segalanya, tinggal celana dalam aku yang telah mulai berair di komponen depan karna menahan napsu dari mulanya. Batang abaimana aku yang telah berdiri menjendul ke depan. aku ragu.

�Ayo dong, semuanya� tuturnya dengan mengendap, mencengkeram serta memelorotkan celana dalamku. burung aku yang mulanya bencat jadi melompat pergi sedemikian itu celana dalam aku turun. �Waw�, besar juga� serunya, dengan mencengkeram burung aku atas tangan kanannya. aku kaget.

Berani benar orang ini. telah enggak terdapat malunya lagi. �Sini� tuturnya dengan membimbing bersandar menyandar ke abar-abar deresi, dengan konsisten menggenggam burung aku yang bengkak. dasaran karpet lusuh menggesek kulit pantatku. beliau berlutuh dihadapanku serta membuka kedua pahaku. Penisku yang bengkak digenggamnya atas kedua tangannya yang lembut serta mengocoknya ayal.

bisa jadi beliau benar ahli. kemudian dengan mesem kepadaku beliau merundukkan kepalanya, membuka mulutnya serta menganjurkan lidahnya ke arah penisku� �Ahhh�� cuma itu yang terucap kala beliau mulai berjolak kemaluanku dari kantung burung hingga ke helmnya. beliau berakhir sejenak serta mesem kepadaku. kemudian berjolak lagi atas laju, turun naik sehala batang kemaluanku, kiri serta kanan. aku nyaris enggak yakin melihatnya. Rasa jijik serta nikmat berbaur jadi satu.

larutan bersih yang pergi dari batangku telah berbaur atas ludahnya. beliau kemudian memuatkan batang kemaluanku beroncet-roncet bersilir-silir ke dalam mulutnya. �Ahhh� nikmaaa�.. tth� lirihku kala beliau mulai menyedot-nyedot batangku, mulutnya berkurang maju memuatkan serta melontarkan batang itu tanpa hal giginya, tanpa rasa jijik sedikitpun, dengan tangannya menekan selangkanganku. abnormal! demikian ini nikmat rupanya rasa orang bersetubuh.

Tangankupun telah enggak tinggal bungkam. Kuusap bahunya, kepalanya, payudaranya kuremas-remas, putingnya kupelintir. saat beliau menghirup batangku tangguh, kupegang kepalanya� �ah.. ahh.. aaaaahhh.. enak� ahh.. � beliau tidak berbicara tetapi lalu aja menyedot-nyedot batangku. Lidahnya cuma sesekali suaranya berbicara �mmmfh�mmmf��

sering-kali beliau menjilati kepala batangku. Lidahnya berputari memutari helm penisku yang sudah mengkilat itu. kemudian memoncongkan bibirnya, mengecup serta menyedot-nyedotnya atas keinginan. kemudian memuatkan serta mengeluarkannya balik.

Hebat. Keringat sudah melancur dari badanku. Lama- kelamaan aku enggak tangguh. beliau kian lekas menyedot-nyedot batang kemaluanku atas amat keinginan. Kali ini beliau memutar-mutar kepalanya. Kemaluanku kerasa dipelintir serta dipijat- pijit. Nikmat sekali. �Ahh�ahh.. lalu.. . enak� aduh� nikmaat� ahhh � aaaaaah�.. sshh� Kakiku kelojotan serta kepalaku menggeleng kiri-kanan. Kepalanya kucengkeram dengan mengikutinya mengulum-ngulum batangku.

enggak terdapat tanda-tanda beliau bakal berakhir, justru imbuh lekas. gila! Apa boleh jadi beliau saya bakal pemancaran di mulutnya? Kayaknya sih sedemikian itu. �Ah.. ahhh.. Cret! Creett! Crott! Aaaaaaaaahh��. Kuangkat pantatku dengan menekan kepalanya. �Aaaaaaaaaaaaaaaaaaw� Cret! Cret! Crott! � betul maaf! Batangku melampiaskan air benih sebagian kali dalam mulutnya.

beliau menghirup atas napsu serta acap kali menelannya tanpa rasa benci sedikitpun. terlebih yang berceceran di batangku juga dijilatinya sampai licin, serta ditelannya. �Hmm.. mmmm�� Gumaman itu aja yang pergi dari mulutnya. aku mengempar langlai serta beliau lalu menjilati kemaluanku serupa tidak sempat senang

Recent search terms:

  • Cersek sosialisi wts
author
Author: